CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

24 July 2013

'Sahur' untuk Mati

Muhammad Akmal | 23:35 | |
Bismillah.


Assalamu'alaikum wbt.


Apa khabar semua? Baik? Alhamdulillah kita semua diberi peluang melalui pertengahan Ramadhan. Saya yakin ada antara kita yang tak perasan Ramadhan berlalu begitu pantas, dan ada yang dah mula merindukan, menginginkan agar Ramadhan berlangsung lebih lama. Pada saya, dua-dua saya rasa. Tak sangka hari ni dah 15 Ramadhan, saya berharap ianya berlangsung lebih lama. Sebab terlalu banyak kelebihan bulan ni, dan saya secara peribadi ada perkara yang saya nak selami di bulan yang mulia ni. Apa tu? Rahsia…Hehe.


Apa pun moga segala amal kita niatkan ikhlas kerana Allah Taala, dan diterimaNya. Amin.



Tajuk kali ni ganas tak? ‘Sahur’ untuk mati? Lain macam aja bunyinya kan. Artikel kali ni, sama macam yang lepas. Sangat unik. Saya ambil orang lain punya, dengan sedikit edit. Sumber asal saya akan sertakan pada bahagian bawah sekali. Jemput baca…


= = = = = =


Ramadhan adalah sebuah 'sekolah' yang 'didirikan' Allah untuk mendidik kita, hamba-hamba-Nya yang BERIMAN, untuk menjadi BERTAQWA. Seperti termaktub dalam kalam sucinya, Al-Baqarah ayat 183.



Dengan apa Allah mendidik kita di bulan ini? Dengan puasa, dengan lapar dan dahaga, dengan menahan sebagian yang dihalalkan di siang hari bulan lainnya, dengan tarawih di malam harinya, dengan memperbanyak amalan sunnah di sepanjangnya, dengan meninggalkan yang sia-sia di sebentangnya.


Oh iya, jangan lupa, Allah juga mendidik kita dengan sahur di awal pagi, dan berbuka di petang hari. Ya, kedua hal itu penuh pelajaran bagi yang mau membuka mata dan menyalakan nurani.


Di edisi ini, izinkan saya menuliskan sedikit inspirasi, yang terselip di balik piring makan sahur kita.



Sahur, ia sungguh penuh inspirasi. Mengapa kita sahur? Bukankah rasa mengantuk meliputi mata? Bukankah setengah fikiran masih tertingal di alam mimpi kita? Bukankah rasa lelah masih meremukkan raga? Sahur itu berat bukan?


Jawapan atas pertanyaan itu, akan mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan yang menghantam kesadaran, selama kita membuka mata dan menyalakan nurani.


Mengapa kita sahur? Sebab itu sunnah Rasulullah. Ah, sepertinya bukan semata karena ia sunnah. Tahajjud juga sunnah, i'tikaf juga sunnah, bershadaqah juga sunnah, ziarah kubur juga sunnah, silaturrahim juga sunnah, tilawah al-Quran juga sunnah. Tidak semua kita kerjakan bukan? Artinya, ada alasan lain yang menggerakkan kita untuk melakukannya.


Sepertinya, lebih banyak yang makan sahur dengan sebuah pertimbangan logik, bahawa esok hari, tidak ada kesempatan makan lagi, hingga berbuka di petang nanti.


Tepat! Itu sangat masuk akal. Kita faham betul bahawa setelah masuk waktu berpuasa, tidak ada lagi kesempatan untuk mengisi perut dengan nutrisi, tidak ada lagi kesempatan untuk menikmati lazatnya masakan isteri, hingga azan maghrib menenggelamkan mentari.


Pertimbangan itulah yang 'memaksa' kita bangun dan makan di pagi buta. Sebab, kita meyakini betul, bahwa saat inilah kesempatannya. Ya, kesempatan satu-satunya.


Tapi kan mengantuk? Tapi badan terasa remuk? Tidak peduli, sebab inilah satu-satunya kesempatan untuk membekali diri, untuk menghadapi siang tanpa kesempatan makan-minum esok hari.


Sahabat, dalam konteks lebih luas, semestinya kesadaran itu mengguncang nurani kita. Mengapa? Sebab, kita akan menghadapi masa yang lebih panjang dari puasa, yang tidak ada kesempatan berbekal di sana.


Masa yang lebih panjang dari puasa itu adalah, masa tak menentu semenjak kita menghembuskan nafas terakhir, hingga waktu pembalasan di hari akhir.


Jika sebelum puasa selama sehari saja, kita menyiapkan bekal yang cukup untuk menjalani puasa, apa yang semestinya kita lakukan untuk menjalani masa yang lebih panjang dari itu?


Tersebab kita tahu bahwa setelah imsak tidak boleh makan dan minum untuk mengisi nutrisi, maka kita makan sahur sebelum imsak untuk menyiapkan diri.


Dengan logik yang sama, oleh sebab kita tahu bahwa selepas kematian tidak ada kesempatan untuk beramal buat menyiapkan diri, maka kita mesti menggunakan waktu hidup ini untuk membekali diri, untuk dibawa ke akhirat nanti.


Itu kesamaan konsep antara puasa dan kematian. Adapula bezanya. Kita mengetahui secara pasti bila puasa bermula dan berakhir. Bermula ketika fajar, dan berakhir di waktu petang. Kita tahu itu. Tapi, siapa yang tahu, bila bermula dan berakhirnya alam kubur? Siapa yang tahu bila kita mati dan bila dibangkitkan kembali?


Kita boleh menunda sahur, sebab kita dapat memperhitungkan bila waktu sahur berakhir. Namun, bolekah kita menunda taubat, sedang kita tidak tahu bila hidup kita berakhir?


Inti dari pelajaran ini adalah, satu-satunya kesempatan untuk menyiapkan bekal menghadapi akhirat adalah ketika hidup di dunia ini. Sebab, kita tidak boleh melakukannya ketika mati.


Tersebab kita tidak tahu bila maut menghampiri, maka tidak ada kesempatan lain bagi kita untuk menyiapkan bekal, kecuali hari ini, saat ini. Sedang esok hari, hidup pun kita belum pasti.


Bila menutup aurat? Bila bertaubat? Bila meninggalkan riba? Bila mencampakkan hukum selain dari hukum Allah? Bila memperjuangkan sempurnanya Islam dalam naungan Khilafah? Sekarang. Jangan menunggu mati. Sebab setelah mati, tidak ada kesempatan lagi.


Sebelum berpuasa, sahurlah. Sebelum mati, berbekallah.


The MoveTivator.
Blog: abayabuhamzah.blogspot.com.
Facebook & Fanpage: Abay Abu Hamzah.
Twitter: @abayabuhamzah

Entri Popular

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Copyright Reserved © 2010-2015 musafir-di bumi-Tuhan. Powered by Blogger.